KOTA TANGERANG,TO- Jual beli sepeda onthel keluaran tahun 1945, ternyata masih menjadi bisnis menyenangkan bagi warga Kota Tangerang.
Nasuhi, salah satu warga Kampung Pintu Air di Kota Tangerang merupakan salah satu warga yang membuka usahanya di tepian Jl. dr. JB Sitanala masuk Kelurahan Karangsari, Kecamatan Neglasari.
Alasannya sederhana jual-beli sepeda antik ini tak banyak pesaingnya dan pembelinya relatif bertambah meskipun tak banyak.
"Jadi, ya asal rajin memburu sepeda antik dan menjualnya dengan harga pantas, pastilah bisnis skala kecil-kecilannya ini selalu laris manis,"katanya dalam situs Pemkot Tangerang.
Nasuhi yang ditemui di show-room sepeda antiknya di tepian jalan protokol Kota Tangerang ini, bertutur dalam memburu barang jualannya dia mengejarnya sampai ke pelosok-pelosok daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur, dua propinsi Indonesia yang masyarakatnya memang penggemar bersepeda ini.
Tentunya, meskipun secera sederhana dia telah mempunyai relasi-relasi penghubungnya, “Jadi jika dapat sepeda baru, mereka tinggal hubungi saya dan saya atur angkutannya dari sana ke sini.” Nasuhi mengaku dalam perburiuan sepeda antik, dia pernah mendapat sepeda berusia di bawah tahun 1945.
Diakui barang dagangannya relatif terjamin kualitas keasliannya, karena semakin asli bagian-bagian sepeda antik itu semakin mahal harganya. Variasi harga pun bergantung dari merek dan langkanya jenis sepeda yang dijualnya, kisaran harga termurah Rp 650 ribu hingga Rp 800 ribu.
Keuntungan lain yang didapatkan Nasuhi adalah jasa memvermak sepeda yang telah dibeli konsumen dan pelanggannya. “Mereka memang harus rajin berburu spare part barang antiknya ke pasar-pasar onderdil, misalnya di blok M atau pasar senen Jakarta.”
Harga jual sepeda onthel yang telah divermak bisa melonjak hingga Rp 2 juta per buah. Ketika ditanya berapa banyak sepeda anthel yang bisa dijual di setiap bulannya, Nasuhi berdiplomasi bahwa dalam sebulan dipastikan dia mendatangkan sepeda baru dari relasinya itu.
Lalu Nasuhi memberi tips untuk menemukan sepeda antik yang masih asli onderdilnya. “Buka saja gigi kayuhnya, yang asli merek dagangnya pasti masih tertera di situ.” Nasuhi sendiri memang menyanggupi jika pembelinya meminta dirinya mencarikan sparepart asli yang dibutuhkan dalam memvermak sepeda onthel yang dibeli. “Umumnya mereka minta ban sepeda warna putih, biar mirip sepeda demang-demang tempo dulu… (cha)
Komentar
Tulis komentar baru