JAKARTA - Alasan mengapa dalam dua bulan terakhir harga BBM tidak diturunkan agar didapatkan surplus dari penjualan premium sebesar Rp3,3 triliun. Hal ini diakibatkan karena harga minyak yang masih fluktuatif.
"Jangan dilihat sebulan atau dua bulan saja perspektifnya. Buktinya sekarang naik (harga minyak) lagi," ujar Menneg BUMN Sofyan Djalil, di sela acara World Islamic Economic Forum ke-5 di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, Selasa (3/3/2009).
Sofyan menuturkan, dulu, ketika harga minyak mencapai level USD34 per barel, harga BBM ini diturunkan. Pasti akan menjadi sulit sekali untuk menaikkan kembali pada saat ini. Pasalnya harga minyak telah mengalami kenaikan.
"Coba bagaimana jika kemarin dinaikkan kembali, lalu diturunkan? Akan sulit," katanya.
Jika harga minyak mengalami kenaikan, Sofyan menegaskan, pemerintah akan memberikan subsidi karena harga akan mengalami kenaikan. Untuk itu, jika harga minyak turun, maka harganya juga tidak akan diturunkan ke titik terendahnya. Ini dilakukan untuk mengantisipasi jika harga minyak naik kembali.
"Jika harga minyak naik, akan disubsidi. Jika harga minyak turun maka akan ditindak sampai ke titik terendahnya," tandasnya. (okz)
Komentar
Tulis komentar baru